Selasa, 17 Mei 2016

Anak, CopyPaste Orangtua



Betapa mudahnya seorang anak mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya, bahkan orangtua tak menyadarinya (Quote)


Pernah mendengar istilah COPY PASTE? Ya, copy paste adalah istilah dalam penulisan naskah dimana kita menyalin, mencontoh, atau meniru tulisan dalam satu dokumen dan kemudian dipindahkan ke dokumen yang lain. Tetapi benarkah istilah copy paste hanya berlaku di dunia penulisan saja? Ternyata istilah tersebut juga ada di dunia parenting.

Sebuah contoh sederhana seperti pernahkah kita melihat seorang ibu yang sedang mengajarkan anaknya untuk bertepuk tangan? Dan si anak dengan cepat pula menirukan ajaran sang ibu. Begitu pun jika ibu mengajarkan kepada si anak untuk memanggil orang tuanya dengan sebutan papa dan mama. Pasti si anak juga akan belajar menirukan apa yang telah diajarkan.

Ada beberapa hal yang akan ditiru oleh anak dari orangtuanya. Saya menyebutnya 3E, yaitu:
  1. Emosi Diri yang dimiliki oleh orangtua akan secara langsung memengaruhi emosi yang dimiliki sang anak. Ketika ibu pemarah, maka anak akan jadi pemarah. Ketika ibu mudah tersinggung, anak akan tumbuh lebih sensitif.
Jika si anak melihat orang tua sedang melampiaskan kemarahannya meskipun bukan ditujukan pada si anak, pasti ia akan dengan mudah menirukannya. Karena ia mendapat contoh dari orang tua yang sedang marah-marah tepat dihadapannya.

2.      Empati dan Cinta Kasih
Anak akan belajar empati dari orangtuanya termasuk juga karakter simpati dan antipati. Kekuatan empati orangtua pada sekelilingnya akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang berempati pada lingkungan dan penuh cinta kasih.

3.      Energi Tauhid
Bagaimana orangtuanya menempatkan Allah di hati mereka, seperti itulah anak akan menempatkan Allah di hatinya. Energi Tauhid orangtua akan di-copypaste oleh anak-anaknya.
Bagaimana orangtua memprioritaskan Allah di hatinya, seperti itulah anak akan memprioritaskan Allah di hatinya.
Seberapa banyak orangtua meluangkan waktu untuk bertemu dengan Allah, seperti itulah waktu yang akan anak luangkan untuk bercengkrama dengan Allah.

Anak dan Orangtua

Jika Anda sedang kesal pada anak maka lihatlah diri sendiri
Jika Anda merasa jengkel pada anak, segeralah introspeksi
Jika Anda merasa anak sulit diatur, kembali lihat pribadi diri
Anak mengikuti setiap gerakan ayah dan ibunya
Anak mengikuti setiap langkah orangtuanya
Sudahkah memberikan teladan untuk mereka?



Anak-anak yang baik adalah anak-anak yang sudah belajar hal-hal yang baik dari orang tuanya. Percayalah!



Adakah Anak Nakal?



Inilah curatan hati Ibu Vivi pada saya.
"Anak saya itu nakal sekali,bu. Bandel dan susah diatur. Juga susah diberitahu. Selalu bikin rumah berantakan, kadang adiknya dipukul. Eh sekarang bertambah lagi kenakalannya. Sekarang suka mengumpat dengan kata-kata kotor. Kalau diberitahu sering melawan. Aduh, saya sampai pusing dibuatnya. Saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus saya perbuat dan apa yang harus saya katakan untuk menasihatinya."

Curahan hati Ibu Vivi di atas, pasti juga dialami oleh orangtua yang lain. Hmm, anak nakal. Benarkah ada anak yang terlahir sebagai anak nakal? Sebenarnya ketika anak menjadi nakal apakah itu mutlak salah mereka? Ataukah justru ada peran Anda sebagai orangtua dibalik kenakalan si anak? Yuk, kita ulas bersama.

Ketika anak masih bayi sampai dengan berumur lima tahun, Anda lebih cenderung memanjakan si anak dan menuruti seluruh keinginan anak. Misalnya ketika si anak meminta mainan yang sebenarnya ia sudah miliki di rumah, pada saat Anda tidak mengabulkan keinginannya, si anak pasti menangis dan berteriak sampai keinginannya terkabul. Dan karena tidak tega akhirnya Anda mengalah dan menuruti keinginan si anak. Respon seperti ini bisa menjadi pemicu kenakalan si anak. Ketika si anak bertambah dewasa ia akan dengan mudah “meneror” Anda agar keinginannya terpenuhi.

Pada saat orangtua bertengkar, terkadang tanpa disadari pertengkaran itu terjadi tepat di hadapan si anak. Padahal pelajaran pertama yang didapat oleh si anak adalah ketika ia melihat semua kejadian yang terjadi di sekitarnya. Hal itu juga bisa menjadi sebab si anak menjadi pribadi yang keras.



Ketika anak melakukan hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan atau pada saat mereka berbicara kotor, Anda seringkali mendiamkan, tidak menegur, tidak menasihati  bahkan menganggap lucu apa yang anak lakukan. Hal ini menyebabkan si anak memiliki pola pikir kalau apa yang mereka lakukan benar adanya.

Lantas bagaimana sebaiknya menghadapi anak yang nakal dan sulit diatur? Yang pertama diterapkan adalah ketentuan yang tegas pada anak. Jika si anak melanggar ketentuan yang telah ditetapkan, Anda bisa memberikan sanksi tegas untuk si anak. Kemudian beri tanggung jawab pada anak sesuai usia. Misalnya memberi tanggung jawab merawat sendiri barang-barang miliknya. Dan yang terpenting Anda lebih banyak meluangkan waktu untuk si anak. Karena terkadang kenakalan si anak bersumber dari keinginan si anak menarik perhatian orangtuanya agar selalu memperhatikannya.

Setiap anak terlahir ke dunia sebagai anak yang baik. Tidak ada anak yang lahir ke dunia ini sebagai anak nakal. Jika pun ada, maka justru orangtualah yang berperan dibalik kenakalan anak. Namun itulah tantangan terindah bagi orangtua. Tantangan mendidik dan membimbing si anak menjadi anak yang baik, penurut, dan berbakti. Jadi, siapkah Anda untuk menikmati tantangan terindah ini?